KAMI INGIN MEMBANGUN KOMUNITAS, TAPI TERNYATA TIDAK SEMUA ORANG SIAP BERKOMUNITAS.

KAMI INGIN MEMBANGUN KOMUNITAS, TAPI TERNYATA TIDAK SEMUA ORANG SIAP BERKOMUNITAS.

Keluh kesah saya sebagai Founder VANDERISM.

Sejak awal, VANDERISM sangat mendukung terbentuknya komunitas airsoft dan gel blaster di Indonesia.

Tujuan kami sederhana: supaya orang bisa saling berbagi informasi, belajar bersama, dan meningkatkan literasi tentang hobi ini.

Kami berharap semakin banyak anggota, semakin banyak pengetahuan yang dibagikan, dan semakin cepat industri ini berkembang.

Tetapi kenyataannya tidak sesuai harapan.

1. Komunitas yang seharusnya menjadi tempat belajar, malah menjadi tempat malas berpikir.

Kami sering melihat pertanyaan yang sama muncul berkali-kali.

Padahal sudah pernah dijawab, dijelaskan, bahkan dibahas panjang lebar oleh anggota lain.

Tetapi bukannya membaca atau mencari tahu terlebih dahulu, sebagian orang justru memilih langsung bertanya lagi.

Besoknya ada yang bertanya hal serupa. Lusa terulang lagi.

Akhirnya komunitas bukan lagi tempat berbagi pengetahuan, melainkan tempat orang meminta jawaban tanpa mau belajar.

Yang lebih parah, muncul pertanyaan seperti:

  • "Ada pistol yang bisa bunuh orang?"
  • "Ada yang bisa buat bunuh binatang?"
  • "Bisa dimodifikasi jadi senjata api?"

Kami sampai bertanya-tanya, sebenarnya orang-orang ini ingin menikmati hobi atau mencari alat untuk melakukan kekerasan?

Kami membangun komunitas penghobi, bukan komunitas calon kriminal.

2. Semakin banyak anggota, belum tentu semakin berkualitas.

Bayangkan komunitas berisi 5.000 orang.

Tetapi mungkin hanya 50 orang yang benar-benar serius belajar, berbagi pengalaman, dan membantu anggota lain.

Sisanya sebagian besar hanya bertanya tanpa membaca, meminta jawaban instan, atau membuat diskusi tidak produktif.

Angka tersebut hanya ilustrasi, tetapi menggambarkan kekhawatiran kami.

Lama-kelamaan, orang-orang yang memiliki pengetahuan justru kelelahan.

Mereka sudah menjelaskan sesuatu berkali-kali, tetapi tidak ada yang mau mempelajari jawaban sebelumnya.

Akhirnya mereka memilih diam atau meninggalkan komunitas.

Yang serius belajar pergi. Yang malas berpikir tetap ramai bertanya.

Kalau sudah begitu, apa sebenarnya manfaat memiliki ribuan anggota?

3. Mungkin masalahnya bukan kurangnya informasi, tetapi kurangnya kemauan belajar.

Selama ini, kami berpikir bahwa cara meningkatkan literasi adalah dengan membuka akses informasi seluas mungkin.

Karena itu, kami membuat konten, menjelaskan produk, menyediakan informasi teknis, dan membangun komunitas.

Tetapi ternyata informasi yang tersedia tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih pintar.

Kalau orang tidak mau membaca, tidak mau mencari tahu, dan tidak memiliki rasa ingin tahu, sebanyak apa pun informasi yang diberikan tidak akan banyak membantu.

Dan ini membuat kami mempertanyakan strategi membangun ekosistem airsoft dan gel blaster di Indonesia.

Kita bisa memperbanyak produk, menyediakan spare part, dan mengembangkan teknologi.

Tetapi kita tidak bisa mempercepat kedewasaan dan budaya belajar masyarakat hanya dengan menjual lebih banyak barang.

Mungkin perkembangan industri ini memang membutuhkan waktu lebih lama karena kesiapan konsumennya juga harus berkembang.

4. Mungkin komunitas memang harus eksklusif.

Dulu saya sangat mendukung komunitas terbuka untuk semua orang.

Sekarang, saya mulai berpikir bahwa keterbukaan tanpa batas justru bisa merusak komunitas itu sendiri.

Bukan berarti pemula tidak boleh bergabung.

Justru kami sangat menghargai pemula yang mau belajar.

Tetapi orang yang tidak menghargai waktu anggota lain, tidak mau membaca informasi, atau terus membahas penggunaan produk untuk kekerasan seharusnya tidak mendapatkan tempat.

Eksklusivitas bukan soal siapa yang paling pintar atau paling kaya. Tetapi siapa yang benar-benar memiliki kemauan belajar dan bertanggung jawab.

Lebih baik 50 anggota yang berkualitas daripada 5.000 anggota yang hanya menghasilkan kebisingan.

5. Informasi tetap terbuka. Komunitas harus dibatasi.

Ke depannya, mungkin inilah pendekatan yang lebih tepat untuk VANDERISM.

Kami akan tetap membagikan informasi, edukasi, video, dan pengetahuan produk kepada siapa pun.

Karena kami tetap ingin masyarakat Indonesia semakin mengenal hobi ini.

Tetapi untuk komunitas, harus ada standar.

Orang harus mau membaca, menghargai diskusi, mengikuti aturan, dan berkontribusi menjaga lingkungan komunitas.

Kami tidak ingin terus mengorbankan waktu dan energi orang-orang yang serius hanya untuk melayani orang yang tidak mau berusaha memahami.

Penutup: Kami tidak menyerah mengedukasi. Kami hanya mulai lebih selektif.

Setelah mencoba berbagai cara, saya mulai menyadari bahwa membangun bisnis dan membangun komunitas adalah dua hal yang berbeda.

Produk bisa diperbanyak.

Harga bisa diturunkan.

Informasi bisa disebarluaskan.

Tetapi kemauan belajar dan kualitas perilaku manusia tidak bisa diciptakan secara instan.

Kami tetap ingin membangun ekosistem airsoft dan gel blaster Indonesia yang lebih maju, seperti komunitas hobi yang sudah berkembang di Hong Kong, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Namun, mungkin kami harus menerima bahwa proses tersebut tidak bisa dipaksakan terlalu cepat.

Karena komunitas bukan sekadar tempat mengumpulkan orang sebanyak mungkin.

Komunitas adalah tempat orang saling menghargai, belajar, dan berkembang.

Kami lebih memilih komunitas kecil yang berkualitas daripada komunitas besar yang tidak memiliki arah.

Dan mungkin inilah pelajaran terbesar kami selama membangun VANDERISM:

Tidak semua orang yang ingin bergabung dengan komunitas benar-benar ingin menjadi bagian dari komunitas. Sebagian hanya ingin dilayani.

Jadi, biarkan informasi tetap terbuka untuk siapa saja.

Tetapi komunitas hanya untuk mereka yang mau belajar, berpikir, dan bertanggung jawab.

— Vander
Founder, VANDERISM

2 komentar

udah darilama bro hahaha

vander •

maaf saya malah belum tau ada komunitas seperti vander, saya hanya tau nya vanderism itu menjual airsoft dan gel

Luki Lazuardi •

Tulis komentar