MASALAHNYA BUKAN SELALU PENIPUAN. KADANG MEMANG LITERASI KITA YANG TERLALU RENDAH.

Ilustrasi pembaca dengan buku terbuka di antara tanda tanya gelap dan cahaya: membaca sebelum bereaksi. Catatan Founder Vander.

Keluh kesah saya sebagai pemilik VANDERISM.

Artikel ini sebenarnya saya rasa percuma untuk ditulis. Kemungkinan besar orang yang seharusnya membaca tulisan ini justru tidak akan membacanya, karena masalah yang ingin saya bahas adalah rendahnya literasi membaca dan kemauan berpikir. Tapi kalau ternyata ada yang mau membaca sampai selesai, ya syukur.

Selama menjalankan VANDERISM, ada satu fenomena yang semakin lama semakin membuat saya frustrasi: banyak orang lebih mudah curiga daripada mencari tahu.

Saya memahami bahwa penipuan online memang ada. Saya juga memahami bahwa membeli produk seperti gel blaster atau airsoft membutuhkan pertimbangan, terlebih bagi orang yang belum familiar dengan industrinya.

Tapi ada perbedaan besar antara menjadi konsumen yang kritis dengan menjadi konsumen yang sekadar paranoid karena tidak memiliki informasi.

Dan ironisnya, sering kali informasi tersebut sebenarnya sudah tersedia di depan mata.

Semua sudah dijelaskan, tetapi tidak dibaca.

Deskripsi produk sudah tersedia. Spesifikasi sudah ditulis. Foto dan video sudah disediakan. Informasi pemesanan sudah dijelaskan. Bahkan VANDERISM memiliki rekam jejak digital yang bisa ditelusuri melalui YouTube, website, dan berbagai platform lainnya.

Namun, pertanyaan yang sama terus bermunculan.

"Ini beneran?"

"Ini penipuan bukan?"

"Barangnya dikirim nggak?"

"Tokonya terpercaya nggak?"

Saya tidak mempermasalahkan orang yang bertanya. Yang saya permasalahkan adalah ketika seseorang memiliki akses terhadap informasi tetapi tidak memiliki inisiatif sedikit pun untuk mempelajarinya.

Kita hidup di zaman ketika informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik. Tetapi anehnya, sebagian orang justru lebih memilih mempertahankan kecurigaannya daripada menghabiskan beberapa menit untuk melakukan verifikasi.

Mencari nama sebuah perusahaan di Google, melihat rekam jejak aktivitasnya, memeriksa konsistensi kontennya, dan membaca informasi produknya seharusnya merupakan kemampuan dasar konsumen digital.

Bukan sesuatu yang luar biasa.

Kecurigaan tidak otomatis berarti kecerdasan.

Ada kesalahpahaman yang menurut saya cukup serius.

Banyak orang merasa bahwa dengan mencurigai segala sesuatu, mereka sedang menjadi konsumen yang pintar.

Padahal skeptisisme yang sehat membutuhkan kemampuan mengevaluasi bukti.

Kalau seseorang curiga, kemudian mencari informasi, membandingkan bukti, memeriksa reputasi penjual, lalu mengambil keputusan, itu namanya berpikir kritis.

Tetapi kalau seseorang curiga, tidak membaca, tidak mencari tahu, tidak memeriksa bukti, lalu tetap merasa semua hal berpotensi penipuan, itu bukan berpikir kritis.

Itu sekadar ketakutan yang tidak diimbangi kemampuan mengolah informasi.

Ketidaktahuan bukan masalah besar. Semua orang pernah tidak tahu.

Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak tahu, tidak mau belajar, tetapi tetap yakin dengan kecurigaannya sendiri.

Lingkaran kebodohan informasi yang terus berulang.

Menurut saya, rendahnya literasi bisa menciptakan lingkaran psikologis yang sangat sederhana:

Tidak membaca → Tidak memahami → Tidak mencari bukti → Muncul ketidakpastian → Timbul kecurigaan → Merasa takut → Menghindari keputusan → Tetap tidak memahami.

Dan siklus ini terus berulang.

Orang yang tidak mau mencari informasi akan terus merasa kekurangan informasi. Orang yang kekurangan informasi akan lebih mudah mengalami ketidakpastian. Ketidakpastian kemudian dapat berubah menjadi kekhawatiran, dan kekhawatiran yang tidak pernah diuji dengan bukti akhirnya menjadi kecurigaan.

Yang paling ironis, mereka kemudian menyalahkan pihak lain karena merasa tidak mendapatkan kepastian.

Padahal kepastian yang mereka cari mungkin sudah dijelaskan sejak awal.

Informasi tersedia bukan berarti otomatis dipahami. Dan informasi yang tidak pernah dibaca tidak akan menghasilkan pengetahuan.

Jangan menuntut kepercayaan kalau tidak mau melakukan verifikasi.

Kepercayaan bukan sesuatu yang harus diberikan secara cuma-cuma kepada penjual.

Sebagai pemilik bisnis, saya sadar VANDERISM tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang jelas, memenuhi pesanan, dan membangun reputasi melalui tindakan nyata.

Tetapi konsumen juga memiliki tanggung jawab untuk berpikir.

Saya tidak meminta siapa pun untuk percaya begitu saja kepada VANDERISM.

Justru sebaliknya.

Silakan curiga. Silakan skeptis. Silakan periksa semuanya.

Cari rekam jejak kami. Tonton konten kami. Bandingkan informasi yang kami berikan. Periksa apakah klaim kami sesuai dengan kenyataan.

Kalau menemukan sesuatu yang janggal, silakan dipertanyakan.

Tetapi kalau bahkan membaca informasi dasar saja tidak mau, lalu langsung menyimpulkan bahwa sesuatu mencurigakan, bagaimana mungkin bisa membuat keputusan yang rasional?

Jangan menganggap semua ketidakpastian sebagai bukti penipuan.

Tidak mengetahui sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak dapat dipercaya. Bisa jadi Anda memang belum berusaha mencari tahu.

Masalah yang lebih besar daripada sekadar transaksi.

Bagi saya, fenomena ini bukan sekadar persoalan pelanggan VANDERISM.

Ini mencerminkan persoalan yang lebih luas tentang bagaimana sebagian masyarakat kita berinteraksi dengan informasi.

Kita semakin terbiasa mendapatkan jawaban instan, tetapi semakin enggan menjalani proses untuk memahami jawaban tersebut.

Mau kepastian tanpa verifikasi.

Mau penjelasan tanpa membaca.

Mau merasa aman tanpa melakukan riset.

Mau menjadi konsumen cerdas tanpa membangun kebiasaan berpikir kritis.

Dan pada akhirnya, kemalasan intelektual sering kali disamarkan sebagai sikap hati-hati.

Padahal kedua hal itu sangat berbeda.

Kewaspadaan membuat seseorang mencari bukti.

Kemalasan intelektual membuat seseorang terus meminta diyakinkan, bahkan ketika buktinya sudah tersedia.

Penutup: Saya bisa menyediakan informasi, tetapi saya tidak bisa berpikir menggantikan Anda.

Selama bertahun-tahun membangun VANDERISM, saya semakin menyadari bahwa tantangan menjalankan bisnis bukan hanya menyediakan produk berkualitas, harga kompetitif, atau pelayanan yang baik.

Tantangan lainnya adalah menghadapi konsumen yang bahkan belum terbiasa membaca dan memproses informasi sebelum mengambil keputusan.

Saya bisa membuat deskripsi semakin lengkap.

Saya bisa membuat video penjelasan semakin detail.

Saya bisa membangun reputasi selama bertahun-tahun.

Saya bisa menyediakan seluruh informasi yang diperlukan untuk melakukan verifikasi.

Tetapi saya tidak bisa memaksa seseorang untuk membaca, berpikir, dan mencari tahu.

Dan saya juga tidak bisa terus-menerus menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilakukan oleh setiap konsumen.

Karena pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan mengenali huruf dan membaca kalimat.

Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengevaluasi bukti, membedakan fakta dengan asumsi, serta mengambil kesimpulan secara rasional.

Kalau membaca saja malas, mencari tahu saja enggan, dan setiap ketidaktahuan selalu diterjemahkan menjadi kecurigaan, jangan heran kalau dunia terasa penuh penipuan dan ancaman.

Mungkin masalahnya bukan karena semua orang di luar sana tidak bisa dipercaya.

Mungkin masalahnya adalah Anda belum terbiasa membedakan antara sesuatu yang benar-benar berbahaya dan sesuatu yang sekadar tidak Anda pahami.

Dan kalau Anda berhasil membaca artikel ini sampai selesai, setidaknya Anda sudah melakukan sesuatu yang saya khawatirkan semakin jarang dilakukan:

Membaca sebelum bereaksi.

— Vander
Founder, VANDERISM

1 komentar

Manteb bener gan … susah kalau literasinya dariawal terbatas hahaha

Budi •

Tulis komentar