Keluh kesah saya sebagai Founder VANDERISM.
Awalnya, saya punya pertanyaan yang mungkin juga dirasakan banyak penghobi:
Kenapa mau menikmati hobi airsoft di Indonesia harus semahal ini?
Ambil contoh harga yang saya temui. Pistol airsoft di Hong Kong sekitar Rp1,5 juta. Di Indonesia, anggaran untuk unitnya menjadi Rp5 juta. Lalu ada biaya pengurusan sekitar Rp1,3 juta.
Totalnya Rp6,3 juta.
Dari harga unit Rp1,5 juta menjadi biaya awal Rp6,3 juta. Total biaya awalnya 4,2 kali harga unit contoh.
Saat itu saya berpikir: kita cuma mau menikmati hobi. Kenapa rasanya seperti sedang membeli sesuatu yang sangat eksklusif?
Pertanyaan yang sama muncul ketika saya melihat senjata api. Di Amerika Serikat, ada Glock 17 Gen5 yang dipasarkan sekitar US$600 untuk unitnya. Sementara angka yang pernah saya dengar di Indonesia, untuk senjata api beserta pengurusannya, bisa mencapai Rp350 juta.
Tentu harga unit dan paket lengkap bukan perbandingan yang sama persis. Tetapi perbedaan sebesar itu membuat saya penasaran:
Apa sebenarnya yang sedang kita bayar? Barangnya, prosesnya, atau sulitnya mendapatkan akses?
Setelah menghadapi pasarnya sendiri, keresahan saya berubah.
Saya kemudian semakin dalam membangun VANDERISM, mempelajari produknya, menghadapi pembeli, dan membuat konten sampai kanal YouTube berkembang menjadi sekitar 350 ribu subscriber.
Dari situ, saya menemukan masalah yang ternyata tidak selesai hanya dengan membuat harga lebih murah.
“Bang, ini bisa pakai gotri?”
“Bisa buat bela diri?”
“Bisa bunuh orang nggak?”
“Bisa tembus sapi? Tembus babi?”
“Bisa pecahin kaca?”
Bahkan setelah dijelaskan bahwa produknya bukan untuk itu, ada yang justru kehilangan minat.
“Oh, kalau nggak bisa begitu, nggak mau.”
Saya sedang menawarkan hobi. Orang yang bertanya justru mencari kemampuan untuk mencelakai.
Dan ini bukan satu atau dua percakapan. Polanya terus berulang dalam pengalaman saya menghadapi calon pembeli.
Saya tidak punya survei untuk menyebut berapa persen masyarakat Indonesia seperti ini. Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa masalahnya tidak ada.
Sebagian orang ingin memiliki benda menyerupai senjata, tetapi belum mau memahami tanggung jawab paling dasarnya.
Literasi rendah menjadi berbahaya ketika digabung dengan keinginan mencelakai.
Orang yang belum tahu masih bisa diajari.
Tetapi bagaimana menghadapi orang yang sudah dijelaskan, tetap tidak mau membaca, lalu memaksakan kehendaknya sendiri?
Sudah diberi tahu amunisinya BB airsoft, tetap meminta gotri. Padahal aturan airsoft Indonesia sendiri menyebut penggunaan BB berbahan plastik dan peruntukan olahraga rekreasi serta permainan. Bukan alat bela diri. peraturan.bpk.go.id
Sudah dijelaskan bahwa produknya untuk hobi, tetap bertanya apakah bisa dipakai melukai.
Lalu kalau tidak bisa, dianggap jelek.
Bagi saya, cara berpikir seperti ini primitif: sebuah produk baru dianggap bagus kalau bisa dipakai menyakiti.
Bukan karena orangnya kurang kaya. Bukan karena tinggal di kampung. Tetapi karena menolak belajar, mengabaikan keselamatan, dan menjadikan daya rusak sebagai ukuran kualitas.
Di titik itu, pertanyaan saya berubah.
Awalnya: “Kenapa aksesnya dibuat begitu sulit?”
Kemudian: “Kalau aksesnya dibuka semudah mungkin, siapa saja yang akan ikut masuk?”
Apakah harga mahal akhirnya menjadi penyaring?
Saya mulai memahami kenapa kepemilikan barang seperti ini memerlukan pemeriksaan dan pengawasan. Dalam persyaratan izin airsoft, misalnya, ada SKCK, keterangan kesehatan, keterangan psikologi, sertifikat menembak atau penataran, serta keanggotaan klub. Jadi prosesnya memang bukan sekadar membayar lalu membawa pulang barang. Database Peraturan | JDIH BPK
Melihat perilaku sebagian calon pembeli, saya sempat berpikir:
Mungkin harga mahal akhirnya berfungsi sebagai penyaring. Orang tidak bisa membeli secara impulsif hanya karena sedang emosi atau ingin terlihat menakutkan.
Tetapi itu dugaan saya tentang efek harga, bukan bukti bahwa pemerintah sengaja memahalkan airsoft untuk menyaring orang bermasalah.
Harga barang, tarif resmi negara, biaya pemeriksaan, keanggotaan, dan jasa pengurusan juga tidak boleh dicampur menjadi satu istilah “biaya izin”.
Yang saya bicarakan adalah biaya yang ditemui di lapangan. Untuk senjata api dengan izin bela diri, total unit beserta pengurusannya bisa mencapai Rp350 juta. Angka dalam dokumen peraturan dan uang yang benar-benar harus disiapkan seseorang di lapangan adalah dua hal yang berbeda. Keresahan saya berangkat dari kenyataan yang dihadapi pembeli, bukan sekadar angka di atas kertas.
Artinya, kebutuhan pengawasan bisa saya pahami. Namun, biaya yang mahal tetap perlu dijelaskan, bukan otomatis dibenarkan.
Apalagi harga punya kelemahan sebagai penyaring.
Orang yang bertanggung jawab bisa saja uangnya terbatas. Orang yang punya banyak uang bisa saja tetap sembrono.
Harga menyaring kemampuan membayar. Belum tentu menyaring kedewasaan.
Kalau hanya orang berduit yang boleh menikmati hobi, kita juga kehilangan calon penghobi yang sebenarnya mau belajar dan taat aturan.
Saya tetap ingin hobi ini bisa dinikmati lebih banyak orang.
Di sinilah dilema saya sebagai penjual.
Saya tidak ingin melayani orang yang mencari alat untuk menyakiti. Tetapi saya juga tidak ingin menyerah dan menyimpulkan bahwa hobi ini hanya pantas untuk orang kaya.
Karena itu, arah yang saya pilih melalui VANDERISM adalah membangun pilihan awal yang lebih terjangkau, termasuk handgun spring gel blaster.
Orang bisa mulai dari produk sederhana untuk koleksi dan latihan sasaran. Tidak harus langsung masuk ke paket yang menghabiskan jutaan rupiah.
Tetapi terjangkau bukan berarti bebas risiko. Gel blaster tetap dapat menyebabkan cedera, terutama pada mata. Pelindung mata yang sesuai dan penggunaan yang bertanggung jawab tetap diperlukan. DoRA 2.0
Yang ingin saya bangun bukan sekadar transaksi, melainkan proses belajar.
Pengguna membaca petunjuk. Memahami cara kerja. Mengenali batas produk. Belajar merawatnya. Baru memikirkan pengembangan berikutnya.
Saya ingin pintu masuknya lebih murah, bukan tanggung jawabnya lebih ringan.
Dan saya tidak membutuhkan pembeli dengan IQ luar biasa.
Saya membutuhkan pembeli yang mau membaca, mengikuti petunjuk, dan berhenti ketika diberi tahu bahwa sesuatu tidak sesuai peruntukannya.
Menurut saya, itu lebih relevan daripada sekadar melihat isi dompet.
Teknologinya berkembang. Jangan sampai cara berpikirnya tetap tertinggal.
Saya sudah 16 tahun berada di bidang ini dan tinggal di China selama dua tahun. Saya bukan hanya melihat katalog atau membaca spesifikasi. Saya ikut membuat molding dan sistemnya, serta menguji produknya langsung.
Bagi saya, gel blaster bukan sekadar mainan murah yang tidak punya masa depan.
Ambil contoh electric blowback dengan gearbox ATM yang saya uji langsung di China. Dalam penilaian saya dari pengujian tersebut, sensasi dan mekanismenya sudah sekitar 95% menyerupai GBBR, tanpa harus menggunakan gas.
Yang saya maksud adalah build upgrade yang saya uji, dengan kombinasi komponen Stariver dan Rock, material steel, serta motor Solink khusus ATM dengan torsi besar. Bukan sekadar mengganti bentuk luar: pengalaman blowback-nya memang sudah sejauh itu.
Pada build upgrade AEG non-blowback, rate of fire juga sudah bisa melampaui 70 tembakan per detik. Itu salah satu contoh seberapa jauh perkembangan yang saya temui dalam ekosistem ini.
Dari perkembangan yang saya lihat dan uji langsung di China, menurut saya ekosistem airsoft sudah jauh tertinggal dibandingkan laju pengembangan gel blaster di sana. Karena itu, saya tidak melihat gel blaster sebagai versi murah yang selamanya hanya bisa mengikuti airsoft.
Ada banyak hal yang bisa dikembangkan: keandalan, kenyamanan, kualitas komponen, kemudahan perawatan, dan pengalaman bermain.
Tetapi ketika pembahasannya sudah sampai ke sana, saya masih harus menjawab:
“Bang, kalau pakai gotri bisa bunuh apa?”
Di situlah letak ironi yang membuat saya lelah.
Produknya sedang berkembang. Tetapi sebagian calon penggunanya masih menilai kemajuan dari kemampuan mencelakai.
Dulu saya hanya ingin harga hobi ini turun.
Sekarang saya sadar, harga yang lebih terjangkau harus berjalan bersama pemahaman yang lebih baik. Kalau tidak, aksesnya bertambah, tetapi masalahnya ikut bertambah.
Saya tetap ingin hobi ini besar. Saya tetap ingin lebih banyak orang bisa menikmatinya.
Tetapi yang ingin saya besarkan adalah komunitas penghobi, bukan pasar untuk orang yang mencari pelampiasan.
Kita berhak mempertanyakan kenapa hobi ini mahal. Tetapi kita juga perlu mempertanyakan perilaku orang-orang yang membuat hobi ini sulit dipercaya.
— Vander
Founder, VANDERISM
0 komentar