Keluh kesah saya sebagai Founder VANDERISM.
Ada satu hal yang menurut saya jauh lebih mengkhawatirkan daripada rendahnya literasi konsumen di Indonesia.
Yaitu ketika kemampuan sebuah barang untuk melukai, menyakiti, bahkan membunuh dijadikan sebagai ukuran kualitas dan nilai jual produk tersebut.
Selama menjalankan VANDERISM, saya menemukan sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan.
Sebagian orang tertarik membeli airsoft atau gel blaster bukan karena menyukai olahraga, teknologi, mekanisme, koleksi, atau aktivitas skirmish.
Melainkan karena pertanyaan-pertanyaan seperti:
"Ini bisa buat bunuh tikus nggak?"
"Kalau ditembak ke manusia bisa luka nggak?"
"Bisa buat berburu binatang nggak?"
"Bisa dimodifikasi jadi senjata api beneran nggak?"
"Bisa dibuat lebih mematikan nggak?"
Dan pertanyaan-pertanyaan serupa yang membuat saya berpikir:
Sebenarnya kalian sedang mencari produk hobi, atau sedang mencari alat untuk menyakiti makhluk hidup?
Karena bagi saya, itu dua hal yang sangat berbeda.
1. Ketika daya rusak menjadi mata uang sebuah produk.
Dalam dunia bisnis, sebuah produk memiliki nilai berdasarkan manfaat yang diberikan kepada penggunanya.
Mobil dinilai dari performa, kenyamanan, keamanan, efisiensi, dan kualitas konstruksinya.
Kamera dinilai dari kualitas gambar, sensor, lensa, dan teknologi yang digunakan.
Komputer dinilai dari kemampuan pemrosesan, efisiensi, dan performanya.
Begitu juga dengan airsoft dan gel blaster.
Seharusnya produk tersebut dinilai dari kualitas material, presisi, konsistensi performa, keandalan mekanisme, ergonomi, kompatibilitas komponen, dan pengalaman penggunaannya dalam aktivitas hobi.
Bukan dari seberapa besar kemampuannya untuk melukai manusia atau membunuh binatang.
Tetapi bagi sebagian konsumen, justru kemampuan melukai itulah yang dianggap sebagai nilai jual.
Semakin menyakitkan, semakin dianggap bagus.
Semakin berbahaya, semakin dianggap hebat.
Semakin mendekati kemampuan senjata sungguhan, semakin dianggap bernilai.
Ini adalah sebuah distorsi nilai yang menurut saya sangat primitif.
Karena ketika kemampuan menghancurkan dijadikan sebagai standar kualitas, kita bukan lagi sedang membicarakan perkembangan teknologi hobi.
Kita sedang membicarakan mentalitas yang gagal membedakan antara rekreasi, olahraga, dan kekerasan.
2. Masalahnya bukan pada barangnya, tetapi pada cara manusia memandang barang tersebut.
Airsoft dan gel blaster pada dasarnya memiliki banyak aspek menarik yang bisa dipelajari.
Ada teknologi mekanis, elektronika, material engineering, desain industri, presisi manufaktur, hingga ilmu tentang bagaimana berbagai komponen bekerja secara terintegrasi.
Ada komunitas skirmish, kompetisi, kolektor, penggemar desain, hingga orang-orang yang sekadar menikmati proses membangun dan merawat sebuah replika.
Bagi saya, seluruh aspek itulah yang membuat industri ini menarik.
Namun, semua kompleksitas teknologi tersebut menjadi tidak berarti ketika seseorang hanya memiliki satu pertanyaan:
"Bisa dipakai buat bunuh apa?"
Bayangkan sebuah produk yang dikembangkan melalui proses engineering, desain, dan manufaktur yang kompleks, kemudian dinilai semata-mata dari kemampuannya untuk menyakiti makhluk hidup.
Betapa dangkalnya cara berpikir seperti itu.
Dan yang lebih menyedihkan, sebagian orang bahkan tidak merasa ada yang salah dengan pertanyaan tersebut.
Seolah-olah potensi mencederai manusia atau binatang adalah fitur produk yang patut dibanggakan.
Padahal kemampuan melukai bukanlah prestasi teknologi yang relevan untuk sebuah produk hobi. Itu justru risiko yang harus dikendalikan.
3. Mentalitas seperti inilah yang ikut menghancurkan masa depan industri.
Saya sering membandingkan ekosistem airsoft Indonesia dengan pasar seperti Hong Kong, Taiwan, dan Amerika Serikat.
Di sana, kita bisa melihat komunitas airsoft yang berkembang melalui kompetisi, skirmish, koleksi, modifikasi untuk kebutuhan permainan, dan apresiasi terhadap kualitas teknologi.
Orang rela mengeluarkan uang untuk gearbox yang lebih andal, material lebih bagus, konsistensi tembakan, desain ergonomis, hingga berbagai komponen presisi.
Mereka membangun sebuah ekosistem hobi.
Tentu bukan berarti semua masyarakat luar negeri memiliki pola pikir ideal atau tidak pernah terjadi penyalahgunaan. Regulasi mereka pun berbeda-beda dan tetap memiliki pembatasan keselamatan.
Tetapi ada satu hal penting yang menurut saya patut dicontoh:
Sebuah industri hobi bisa berkembang ketika nilai utamanya adalah rekreasi, olahraga, keterampilan, dan teknologi. Bukan potensi kekerasan.
Sementara itu, di Indonesia, kita masih harus menghadapi orang-orang yang menganggap kemampuan membunuh sebagai salah satu alasan membeli replika.
Kemudian kita heran kenapa produk seperti ini sering dipandang negatif.
Kita heran kenapa industri ini menghadapi begitu banyak kekhawatiran masyarakat.
Kita heran kenapa pengawasan dan regulasinya menjadi persoalan yang rumit.
Memang, regulasi tidak hanya disebabkan perilaku konsumen. Ada pertimbangan hukum, keamanan publik, dan kebijakan negara yang jauh lebih kompleks.
Tetapi bagaimana kita berharap masyarakat dan regulator mempercayai sebuah industri hobi jika sebagian konsumennya sendiri terus mengasosiasikan produk tersebut dengan kekerasan?
Persepsi publik tidak terbentuk dari produk saja.
Persepsi publik juga terbentuk dari perilaku orang-orang yang menggunakannya.
Dan selama masih ada orang yang secara terbuka membanggakan potensi melukai, mereka ikut merusak reputasi seluruh komunitas, termasuk para penghobi yang bertanggung jawab.
4. Rendahnya literasi dan kedewasaan berpikir memperburuk persoalan ini.
Menurut saya, ada hubungan yang penting antara literasi, kemampuan berpikir kritis, dan cara seseorang memahami fungsi sebuah produk.
Orang yang mau belajar akan berusaha memahami mengapa sebuah barang dibuat, bagaimana mekanismenya bekerja, apa batas penggunaannya, dan risiko apa yang harus dikendalikan.
Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keinginan untuk belajar cenderung berhenti pada pemahaman paling dangkal.
Bentuknya menyerupai senjata, maka yang terpikir hanya kemampuan untuk menyakiti.
Ada mekanisme penembakan, maka yang dipikirkan hanya seberapa berbahaya hasil tembakannya.
Ada produk replika, maka yang ingin diketahui adalah apakah benda tersebut bisa diubah menjadi senjata sungguhan.
Ini bukan lagi sekadar persoalan kurangnya informasi. Ini persoalan ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk memahami konteks.
Dan saya merasa industri ini terlalu sering dipaksa menanggung konsekuensi dari pola pikir seperti itu.
Tentu tidak semua orang yang kurang memahami airsoft memiliki niat buruk. Orang awam berhak bertanya dan belajar.
Tetapi ada perbedaan besar antara orang yang belum memahami suatu hobi dengan orang yang secara sadar mencari kemampuan untuk menyakiti.
Yang pertama perlu diedukasi.
Yang kedua tidak perlu difasilitasi.
Pendidikan dan tingkat intelektual seseorang juga tidak bisa dinilai hanya dari satu pertanyaan. Tetapi ketika seseorang berulang kali mengabaikan penjelasan, menolak memahami fungsi produk, dan terus mengejar potensi kekerasannya, itu adalah masalah sikap dan penilaian yang serius.
5. VANDERISM bukan dibangun untuk pembunuh, teroris, atau kriminal.
Saya ingin menyampaikan hal ini dengan sangat jelas.
VANDERISM adalah bisnis yang dibangun untuk industri hobi. Bukan industri kekerasan.
Kami berusaha menyediakan pilihan produk, spare part, aksesori, dan komponen yang semakin lengkap untuk mendukung kebutuhan para penghobi.
Kenapa?
Karena kami ingin membangun sebuah ekosistem.
Kami ingin orang bisa menikmati proses koleksi, perawatan, personalisasi, eksplorasi mekanisme, dan permainan yang aman serta bertanggung jawab.
Kami ingin orang bisa mengenal teknologi di balik produk yang mereka beli.
Kami ingin mendorong berkembangnya komunitas skirmish dan industri hobi yang lebih matang di Indonesia.
Kami ingin orang membeli produk karena menyukai kualitas dan pengalaman yang ditawarkan.
Bukan karena mereka membayangkan siapa atau apa yang bisa mereka lukai menggunakan barang tersebut.
Kalau tujuan Anda membeli produk VANDERISM adalah untuk mengancam seseorang, membunuh binatang, melakukan tindak kriminal, atau mengubah produk menjadi senjata yang berbahaya, saya sampaikan secara terbuka:
Anda bukan target market kami.
Kami tidak tertarik mendapatkan keuntungan dari niat seperti itu.
Kami tidak ingin melayani kebutuhan tersebut.
Dan kami tidak membutuhkan konsumen seperti itu untuk membesarkan bisnis kami.
Silakan cari tempat lain. Tetapi jangan membawa mentalitas kekerasan ke dalam ekosistem yang sedang kami bangun.
Karena kami lebih memilih kehilangan transaksi daripada ikut membentuk pasar yang menganggap kemampuan melukai sebagai sesuatu yang pantas diperjualbelikan.
6. Jangan jadikan mentalitas primitif sebagai standar industri.
Ada sebuah lingkaran masalah yang menurut saya harus diputus:
Literasi hobi rendah → Produk dipahami sebagai alat kekerasan → Daya rusak dijadikan ukuran kualitas → Permintaan berbahaya meningkat → Risiko penyalahgunaan membesar → Persepsi publik memburuk → Pengawasan semakin ketat → Komunitas hobi yang benar ikut dirugikan.
Tidak setiap tahap dalam lingkaran tersebut pasti terjadi, tetapi risikonya nyata dan masuk akal untuk kita khawatirkan.
Yang akhirnya dirugikan bukan hanya penjual.
Tetapi juga kolektor, pemain skirmish, komunitas, produsen, dan semua orang yang benar-benar mencintai hobi ini.
Orang-orang yang sekadar ingin menikmati aktivitas rekreasi akhirnya harus menghadapi stigma yang sebenarnya tidak mereka ciptakan.
Dan ironisnya, sebagian orang yang ikut menciptakan stigma tersebut bahkan tidak menyadari kontribusi mereka terhadap masalah ini.
Mereka hanya ingin barang yang lebih berbahaya.
Tanpa memikirkan konsekuensi sosial yang ditimbulkan.
Mentalitas seperti ini bukan tanda keberanian, bukan tanda kejantanan, dan jelas bukan tanda kecerdasan.
Itu hanyalah cara berpikir primitif yang diberi kemasan modern.
Kita sudah hidup di zaman ketika teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman, meningkatkan kualitas hidup, dan mengembangkan berbagai bentuk hiburan.
Tetapi masih ada orang yang mengukur nilai sebuah benda berdasarkan kemampuan untuk menyakiti.
Kalau itu masih menjadi standar berpikir Anda, mungkin yang perlu ditingkatkan bukan performa produknya.
Melainkan kapasitas berpikir Anda sendiri.
7. Kami ingin membangun ekosistem hobi yang lebih dewasa di Indonesia.
Visi saya terhadap VANDERISM sebenarnya sederhana.
Saya ingin Indonesia memiliki ekosistem airsoft dan gel blaster yang bisa berkembang seperti komunitas hobi di Hong Kong, Taiwan, Amerika Serikat, dan pasar internasional lainnya.
Tempat orang menikmati kompetisi, menghargai teknologi, memahami keselamatan, dan mengembangkan keterampilan.
Tempat kualitas produk dinilai berdasarkan fungsi yang benar.
Tempat para penghobi bisa berdiskusi tentang engineering, kompatibilitas, reliabilitas, dan inovasi.
Tempat kolektor bisa menikmati produk tanpa selalu diasosiasikan dengan tindak kriminal.
Dan tempat masyarakat bisa memahami bahwa sebuah replika untuk hobi tidak otomatis memiliki tujuan yang sama dengan senjata sungguhan.
Tetapi untuk sampai ke sana, kita tidak cukup hanya memperbanyak produk atau membuka lebih banyak toko.
Kita juga harus meningkatkan kualitas manusianya.
Lebih banyak literasi.
Lebih banyak edukasi.
Lebih banyak kedewasaan.
Lebih banyak tanggung jawab.
Dan lebih sedikit glorifikasi kekerasan.
Karena industri yang sehat tidak dibangun hanya dari banyaknya pembeli, tetapi juga dari nilai dan budaya yang dibawa oleh para penggunanya.
Penutup: Kalau tujuan Anda ingin membunuh, Anda salah masuk toko.
Saya membangun VANDERISM bukan untuk memfasilitasi fantasi kekerasan siapa pun.
Saya membangun VANDERISM karena saya percaya bahwa industri ini memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjual barang berbentuk replika senjata.
Ada teknologi yang bisa dipelajari.
Ada komunitas yang bisa dibangun.
Ada keterampilan yang bisa dikembangkan.
Ada pengalaman rekreasi yang bisa dinikmati.
Dan ada industri yang bisa tumbuh secara profesional jika kita memiliki budaya konsumen yang cukup dewasa untuk mendukungnya.
Tetapi semua itu sulit berkembang jika kita terus membiarkan kemampuan membunuh menjadi mata uang dalam menentukan nilai sebuah produk.
Saya tidak ingin VANDERISM dikenal sebagai tempat membeli barang yang bisa mencelakai orang.
Saya ingin VANDERISM dikenal sebagai tempat orang mengembangkan dan menikmati hobinya.
Kalau Anda ingin bermain, mengoleksi, belajar, berkompetisi, atau mengapresiasi teknologi, Anda adalah bagian dari ekosistem yang ingin kami bangun.
Tetapi kalau yang Anda cari adalah alat untuk menyakiti manusia, membunuh binatang, atau melakukan kejahatan, silakan keluar.
Kembali saja ke habitat mentalitas primitif tersebut. Jangan bawa ke komunitas kami.
Karena kami tidak ingin membangun industri yang lebih berbahaya.
Kami ingin membangun industri yang lebih cerdas, lebih dewasa, dan lebih bertanggung jawab.
Dan satu hal yang perlu dipahami:
Tidak semua benda yang menyerupai senjata harus dinilai dari kemampuannya untuk membunuh.
Kalau satu-satunya nilai yang bisa Anda lihat dari sebuah airsoft atau gel blaster adalah potensi mencelakai makhluk hidup, mungkin masalah terbesarnya bukan pada produk tersebut.
Mungkin masalahnya justru terletak pada cara Anda berpikir.
— Vander
Founder, VANDERISM
0 komentar